Pages

Sunday, January 16, 2011

Taize: Kasih dan Kepedulian Kepada Sesama

I.     Remaja: Sosok Pribadi yang Terus Mencari
Remaja sebagai sosok yang terus bertumbuh dan berkembang seringkali mengalami permasalahan dalam hal identitas dan jati diri. Hal ini pulalah yang menyebabkan remaja selalu mengalami krisis yang berakibat mereka selalu mencari terus jati dirinya dan terkadang menemukannya pada “pihak yang salah”. “Pihak yang salah” salah satunya adalah komunitas sebaya. Hubungan dengan teman menjadi salah satu hal paling pokok bagi kehidupan remaja. Mereka seakan-akan lebih percaya pada teman daripada kepada keluarga. Sementara itu, kebanyakan orangtua juga kurang memperhatikan masalah ini. Anak-anak remajanya seperti terlepas dari orangtua mereka. Seperti inilah yang harus menjadi perhatian serius bagi para pembimbing remaja ketika membimbing para remajanya. Namun, dalam tulisan ini saya tidak bermaksud  untuk menghakimi siapa pun termasuk remaja sendiri. Saya lebih melihat sebuah sisi positif dari sebuah komunitas. Komunitas kehidupan remaja dapat menjadi suatu motivator bagi remaja itu sendiri apabila pembina mampu mengelola suatu strategi yang tepat dan sesuai kebutuhan. Dalam komunitas remaja itu terdapat suatu bentuk kepedulian satu dengan yang lain yang jarang sekali kita temukan dalam kehidupan orang dewasa. Menjadi penting bagi seorang pembimbing remaja untuk dapat melihat sisi positif kehidupan komunitas remaja agar dapat masuk dan mengikuti pola kehidupan remaja untuk dapat menanamkan rasa kepedulian yang lebih dalam bagi remaja itu sendiri.

Monday, January 10, 2011

Yusuf: Cinta dan Pergumulan Pribadinya

I. Pendahuluan: Berita Kelahiran, Berita Sukacita?
Bagi setiap pasangan suami-istri dan keluarga, berita kelahiran adalah berita yang sangat menggembirakan. Betapa tidak, berita ini merupakan berita yang sangat ditunggu-tunggu bagi keluarga yang merindukan hadirnya seorang anak yang makin memperlengkapi susunan anggota keluarga yang telah ada. Tak dapat dipungkiri bahwa semua anggota keluarga akan ikut bersukacita dan bergembira, mereka akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk membuat sang bayi yang akan hadir di dunia agar nyaman dan mulai bisa merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia ini. Semua sibuk dan bingung mempersiapkan hal-hal apa yang dapat dipergunakan dan tepat bagi bayi itu. Apalagi bila itu adalah kelahiran anak pertama dalam suatu keluarga tentunya dapat dibayangkan betapa sibuknya untuk mencarikan yang terbaik bagi bayi itu.

Tuesday, August 24, 2010


Oh what a happy soul I am, Although I cannot see;
I am resolved that in this world contented I will be.
How many blessings I enjoy, that other people don't;
To weep and sigh because I'm blind, I cannot, and I won't.
Kenalkah anda dengan puisi di atas? Puisi di atas ditulis oleh seorang gadis kecil berusia 8 tahun bernama Frances Jane Crosby yang lebih terkenal dengan Fanny Crosby, pencipta lagu-lagu himne Kristen yang beberapa terdapat dalam Kidung Jemaat. Fanny lahir di Southeast, Putnam County, New York pada 24 Maret 1820 dari pasangan keluarga miskin, John dan Mercy Crosby. Pada usia 6 minggu, dia menderita sakit demam yang sangat tinggi dan menyebabkan peradangan pada matanya. Akibat peradangan pada matanya itu, Fanny harus menjalani terapi. Namun, pada akhirnya ia buta seumur hidup. Pada usia 1 tahun, ayahnya meninggal dan Fanny hidup bersama kakek-neneknya. Meskipun buta, ia tidak berputus asa. Di tengah kebutaannya, Fanny tetap terus berkarya tanpa henti, menciptakan puisi dan lagu-lagu, terutama lagu himne. Pertama kali ia menciptakan lagu himnenya pada 1863 dan sejak itu terus membuahkan karya-karya emasnya yang hingga kini masih dapat kita dengar, nikmati, dan kita nyanyikan. Ia tidak pernah kecewa dengan kebutaannya, justru ia bersyukur karena masih dapat berkarya dan memuji Allah dengan keterbatasannya itu. Ia bersukacita karena Allah memakainya sebagai berkat bagi orang-orang sekitarnya.
Selama ini sebagian besar orang berpikir hanya orang-orang besar yang diutus oleh Allah untuk memberitakan kasihNya. Padahal, siapapun bisa kalau mau dipakai oleh Allah menjadi mitraNya. Fakta ini terjadi ketika Yesus setelah mengutus keduabelas murid juga mengutus 70 muridNya yang lain untuk beberapa waktu lamanya memberitakan Injil (Lukas 10:1-11, 16-20). Tantangan yang dihadapi tidaklah mudah, medan yang harus ditempuh cukup berat. Mereka harus berjalan ke setiap tempat yang hendak dikunjungi oleh Yesus. Perbekalan yang dibawa seringkas dan sedikit mungkin. Sama seperti keduabelas murid yang lain, mereka juga diberi karunia menyembuhkan orang sakit sebagai bukti mereka adalah wakil yang diberi kuasa penuh oleh Kristus sendiri. Upaya tersebut akhirnya berhasil dengan baik dan mereka diyakinkan, dengan peyertaan Allah sendiri mereka juga mampu memberitakan Injil.
Bagaimana dengan kita? Mungkin kita merasa bahwa diri kita adalah manusia yang lemah, tidak mempunyai kemampuan apa-apa, tidak punya status sosial tinggi, miskin. Mustahil untuk dapat menjadi mitra Allah dalam memberitakan kasihNya. Namun, coba kita lihat. Fanny Crosby adalah orang yang terbatas, ia buta sejak kecil tapi mau menjadi mitra Allah dengan berkarya di tengah keterbatasannya itu. Demikian pula dengan 70 murid itu, mungkin awalnya mereka orang biasa-biasa saja , mereka mau untuk diutus memberitakan Injil. Diperlukan komitmen yang sungguh-sungguh, disiplin yang baik, dan kemauan untuk diproses oleh Allah. Saatnya kita bangkit menjadi mitra Allah yang terlibat aktif, tidak hanya sebagai “domba” yang harus digembalakan. Jika kita mau melakukannya, ada sukacita yang muncul, seperti yang dialami oleh murid Yesus seusai memberitakan Injil. Siapkah dan maukah Anda menjadi mitra Allah? Selamat belajar untuk berbahagia menjadi mitra Allah, Tuhan Memberkati.

Tuesday, April 6, 2010

Pengalaman Menyiapkan Pelajaran Sekolah Minggu

Bagi seorang guru sekolah minggu, menyiapkan pelajaran untuk anak sekolah minggunya merupakan tugas dan dan tanggung jawab utama agar apa yang disampaikan kepada anak sekolah minggunya tepat serta sesuai tujuan. Namun, terkadang kita mengalami kesulitan dalam menyiapkan pelajaran tersebut, kita dituntut untuk kreatif dan memiliki sesuatu yang berbeda dalam menyampaikan pelajaran kepada anak. Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan pengalaman yang saya alami dalam mempersiapkan pelajaran untuk adik-adik sekolah minggu saya.


Monday, January 25, 2010

Siapa Orang Yahudi Itu?

Nama : Virgo Tri Septo Anggoro
NIM : 01082201
Mata Kuliah : Yudaika
Pertanyaan tentang siapa orang Yahudi pasti akan dilemparkan oleh setiap orang yang belum pernah mengenal orang Yahudi. Demikian pula halnya dengan saya. Saya adalah orang yang belum pernah mengenal (secara langsung) sama sekali orang Yahudi. Namun, dalam tugas ini saya akan mencoba untuk menjawab menurut pengetahuan yang selama ini saya dapatkan. Orang Yahudi, sepengetahuan saya adalah orang yang sangat taat pada hukum Taurat. Mereka melaksanakan segala peraturan dan ketentuan serta perintah yang terdapat di dalamnya dengan ketat dan berusaha untuk tidak membuat cacat, artinya sesempurna mungkin. Orang Yahudi berusaha untuk melakukan Taurat dengan baik dan sempurna agar mereka menjadi suci dan berkenan di hadapan Allah. Namun terkadang mereka melakukannya dengan berlebihan hingga merasa lebih sempurna dibandingkan dengan orang lain dan merasa eksklusif. Akibatnya, seringkali orang Yahudi tidak disukai oleh orang lain atau masyarakat yang ada di sekitarnya. Selain itu, orang Yahudi adalah orang yang hidupnya teratur dan sistematis, hal ini (mungkin) disebabkan mereka melakukan hukum Taurat dengan sungguh-sungguh. Di zaman modern ini, orang Yahudi terkenal akan kecerdasannya, sebut saja Albert Einstein, salah satu orang Yahudi yang menjadi ilmuwan tersohor di dunia karena menemukan berbagai hal baru yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan modern. Kecerdasannya di atas rata-rata dan diakui di seluruh dunia. Menurut saya, mereka juga orang yang yang tidak kenal menyerah dan memliki jiwa nasionalisme tinggi. Hal ini terbukti bagaimana mereka berusaha merebut kembali tanah mereka (gerakan Zionisme) dari masyarakat yang telah lebih dulu mendiami tanah tersebut setelah mereka bersatu kembali dari terceraiberainya selama ratusan tahun.
Berbicara tentang kata Yahudi, yang terlintas di benak saya adalah peristiwa Holocaust yang terjadi di Jerman saat Hitler berkuasa. Peristiwa yang menjadi salah satu tragedi kemanusiaan yang terjadi di hampir paruh abad ke-20. Jutaan orang Yahudi dibunuh dengan cara yang sangat keji, mereka dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi, setelah tenaga mereka diperas dan dirasa kurang berguna lagi, mereka dimasukkan ke dalam “kamar mandi” gas dan di sanalah mereka dibunuh dengan cara diberi gas beracun dan mematikan. Hal ini mungkin menjadi luka yang cukup dalam bagi bangsa Yahudi dan umat manusia lainnya, beruntung banyak yang lolos dari peristiwa Holocaust ini meskipun mereka menjadi difable selama sisa umur hidup mereka. Hal lain dalam benak saya mengenai hal yang berhubungan dengan kata Yahudi adalah Zionisme, sebuah gerakan yang ingin mempersatukan kembali bangsa Yahudi yang terceraiberai selama ratusan tahun akibat Yerusalem dihancurkan. Mereka ingin bersatu lagi seperti saat bangsa Israel masih Berjaya dan hidup di tanah yang sama yaitu Tanah Palestina.
Itulah sekelumit hal yang saya ketahui tentang siapa orang Yahudi dan hal yang berhubungan dengan kata Yahudi. Saya berharap melalui kuliah Yudaika ini, saya memperoleh pengetahuan yang baru mengenai seluk beluk Yudaisme dan segala pernak-perniknya.
Yogyakarta, 25 Januari 2010
Di tengah malam yang beringsut dingin
dan terdengar bunyi exhouse fan yang menderu dengan keras…

Thursday, January 21, 2010

Mengasihi Tanpa Memilih

Kamis, 21 Januari 2010 saya mengikuti persiapan mengajar Sekolah Minggu kelas besar karena saya mengajar kelas 5 SD. Dalam persiapan ini, kami para guru mempersiapkan cerita tentang Zakheus yang diambil dari Lukas 19:1-10. Cerita tentang Zakheus ini pasti sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Dia adalah orang yang secara fisik sangat berbeda dengan yang lain, kecil, pendek dan sedikit (mungkin) cebol. Ada hal yang pasti kita semua sudah tahu, pekerjaannya adalah pemungut cukai, pekerjaan yang tidak disenangi oleh masyarakat Yahudi pada umumnya saat itu. Mengapa demikian? Karena pemungut cukai dikenal sebagai pemeras harta rakyat sehingga menyebabkan rakyat menjadi miskin. Namun, sebenarnya hal ini wajar saja terjadi. Ketika membaca bahan tambahan dan diskusi bersama guru-guru yang lain, ada latar belakang yang patut kita lihat mengapa pemungut cukai sangat dibenci oleh masyarakat pada zaman itu. Pemungut cukai adalah petugas yang memungut pajak dari masyarakat untuk disetorkan kepada pemerintah (pemerintah Romawi yang berkuasa saat itu) dengan cara memakai uang mereka sendiri dulu baru setelah itu mereka menarik dari rakyat. Maka mereka, para pemungut cukai, menagih dari rakyat dengan cara memaksa karena mereka juga takut kalau harta mereka tdak kembali dan tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Terlepas dari itu, cara mereka menagih dengan cara memaksa sangatlah tidak manusiawi sehingga mereka sangat dibenci oleh masyarakat.

Thursday, December 17, 2009

Ritual Buddha: Perayaan Pergantian Tahun

Nama : Virgo Tri Septo Anggoro
NIM : 01082201
Matakuliah : Antropologi Agama
Tugas : Paper Akhir Semester

Ritual Buddha: Perayaan Pergantian Tahun

I. Pengantar
Agama Buddha sebagai salah satu agama yang diakui keberadaannya di Indonesia mempunyai ritual-ritual yang dapat kita pelajari dan (mungkin) hal yang kita pelajari tersebut dapat bermanfaat bagi kita. Dalam paper akhir ini saya mengambil contoh agama Buddha karena menurut saya mereka terbuka ketika diajak berdialog dan tidak sungkan memberi penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ritual yang mereka lakukan. Ada baiknya saya memberi sedikit gambaran tempat ibadah yang saya kunjungi dan teliti. Nama tempat ibadahnya adalah Vihara Buddha Praba yang terletak di Jl. Brigjend. Katamso no. 3 Yogyakarta. Vihara in termasuk dalam kategori bangunan cagar budaya karena usianya yang tergolong sudah cukup tua. Jenis ritual yang coba saya sajikan pada paper ini adalah ritual Pergantian Tahun yang biasanya jatuh pada tanggal 1 dan 15 Imlek menurut penanggalan mereka. Ritual ini termasuk ritual khusus dan dilaksanakan hanya sekali setahun. Bagaimana jenis-jenis persiapan, bentuk “liturgi”, simbol-simbol yang dipergunakan, dan kaitannya dengan teori yang telah kita dipelajari di kelas, saya paparkan dan jelaskan pada bagian berikutnya. Harapan saya, semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua dan kita dapat belajar hal baru serta mencoba lebih terbuka dengan keyakinan lain.

Wednesday, November 11, 2009

Implikasi Pendidikan Kristiani di Gereja Asal

Nama : Virgo Tri Septo Anggoro
NIM : 01082201
Mata Kuliah : Pendidikan Kristiani
Tugas : Paper Implikasi Pendekatan-Pendekatan Pendidikan Kristiani
menurut Jack L. Saymour

Implikasi Empat Pendekatan Pendidikan Kristiani di GKI Jombang:
Sebuah Tinjauan Ulang

I. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan gerejawi, baik di masa lalu, masa kini maupun di masa yang akan dating. Mengapa demikian? Hal ini terkait dengan pengajaran tentang firman Tuhan dan ajaran-ajaran gerejawi agar jemaat dapat memahami dan menghayati sebagai sebuah pemikiran yang rasional dan spiritual. Apalagi jika kita melihat konteks GKI Jombang yang terdiri dari berbagai ragam jemaat dan tentunya mempunyai keunikan masing-masinh sebagai individu. Namun, keunikan tersebut tidaklah boleh menjadi suatu batu sandungan untuk bertumbuh dan berkembang. Maka melalui mata kuliah Pendidikan Kristiani ini kita belajar mengenai empat pendekatan pendidikan Kristiani yang biasanya terdapat di jemaat dan secara langsung atau tidak langsung diterapkan. Dalam paper ini, saya akan mencoba mengulas kembali empat pendekatan ini yang sebelumnya sudah saya peroleh di kelas, baik melalui tugas baca, diskusi maupun tugas pengamatan di lapangan. Kemudian, saya juga mencoba untuk menganalisisnya dengan mengkaitkan empat pendekatan tersebut dengan kehidupan jemaat di gereja saya terutama dalam hal implikasi-implikasinya. Bahan referensi yang saya pergunakan hanya satu, yaitu buku Mapping Chritian Education: Approaches to Congregational karena saya mencoba untuk menuangkan konsep pikiran saya dan lebih mengkaitkannya dengan kehidupan di jemaat.

II. ISI
II.1. Teori-teori Pendekatan Pendidikan Kristiani
Pada bagian isi, saya akan terlebih dahulu mencoba untuk menjabarkan ulang mengenai teori-teori pendekatan pendidikan Kristiani yang terdapat dalam buku Mapping Chritian Education: Approaches to Congregational Learning karya Jack L. Saymour. Ada empat macam pendekatan, yaitu pendekatan instruksional religius, pendekatan perkembangan spiritual, pendekatan komunitas iman, dan pendekatan transformasi. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak hasil pemaparan saya berikut ini.
1. Pendekatan Instruksional Religius
Pendekatan ini adalah pendekatan yang sering muncul dan dapat kita jumpai hampir di semua gereja. Tujuan dari pendekatan ini adalah memampukan naradidik untuk bertumbuh dalam iman Alkitabiah dan membuat koneksi atau hubungan antara isi iman dan kehidupannya. Harus ada sebuah relevansi antara teks dan konteks sehingga tercipta sebuah hubungan timbal-balik dan tidak searah. Apabila kita hanya mendasarkan pada slaah satu saja (teks atau konteks) akan terjadi hubungan yang tidak seimbang dan berat sebelah. Akibatnya, relevansi hanya satu arah, banyak kelemahan serta kurang up to date. Penjabaran tujuan yang lain adalah berfokus pada suasana dan metode-metode belajar-mengajar yang tepat. Terpenting, kita dapat menghubungkan antara iman yang kita miliki dengan realitas kehidupan nyata yang kita hadapi. Berikutnya, fasilitator atau pengajar barada dalam suatu kemitraan dengan naradidik untuk membangun sebuah ruang dan proses pembelajaran. Kemitraan yang dimaksud, fasilitator bertanggungjawab dalam membangun suasana yang menghargai integritas isi pembelajaran, naradidik, dan praksis sebagai implikasi dari iman. Mengapa fasilitator harus menghargai naradidik? Karena mereka (naradidik) mengikuti suatu proses pembelajaran bukanlah dengan kepala kosong tetapi sudah ada suatu konsep dalam benak mereka, minimal pengalaman kehidupan sehari-hari yang telah mereka peroleh. Mempertimbangkan proses belajar yang akan dilaksanakan. Hal lain yang menjadi tugas seorang fasilitator adalah memampukan naradidik untuk berpikir dan memahami isi Alkitabiah sesuai dengan pengalaman yang mereka dapat serta membantu untuk memilih suatu cara hidup dalam dunia sebagai respon terhadap panggilan Allah. Sedangkan naradidik adalah penyumbang yang bertanggungjawab terhadap proses pembelajaran dan sebagai mitra/partner. Ketika naradidik mengikuti proses pembelajaran, seperti yang telah saya singgung di atas, membawa sesuatu dalam benak mereka. Mereka tidak datang dengan kepala kosong atau tangan hampa. Selama proses pembelajaran naradidik aktif dalam mendengar dan berbicara. Proses pendidikan atau pembelajaran dalam pendekatan ini adalah terjadinya sebuah refleksi teologis yang terjadi dalam mengetahui, menginterpretasi, menghidupi dan melakukan iman; proses ini berlangsung bersama antara fasilitator dan naradidik. Konteks yang ada adalah kekeluargaan dimana terdapat suatu komunitas belajar yang memberdayakan pembelajaran yang setia untuk segala usia. Komunitas belajar adalah suatu komunitas yang menghargai suasana belajar, mempunyai suatu iklim harapan untuk belajar bertumbuh dan belajar bertanggungjawab, saling belajar satu sama lain, dan proses pembelajarannya bersifat eksperiensial atau berdasarkan pengalaman. Ada suasana kekeluargaan dalam proses belajar mengajar, tanpa memandang strata dan semua (baik naradidik maupun fasilitator) bekerjasama. Implikasi dari pendekatan ini untuk pelayanan mempersiapkan orang dengan suatu cerita dan iman agar hidup bertanggungjawab dan setia dalam berhadapan dengan dunia. Mereka nantinya dapat siap dalam menghadapi realitas dunia. Ada suatu model dari pendekatan instruksional religius yaitu instruksional yang beracuan tujuan. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah perumusan tujuan dilakukan sejak awal, setelah rumusan tujuan dirumuskan maka ditindaklanjuti dengan menerapkannya dalam proses belajar-mengajar, kemudian dilakukan evaluasi terhadap rumusan tujuan yang telah dibuat, apakah sudah sesuai atau masih diperlukan perbaikan dan penyesuaian.
2. Pendekatan Perkembangan Spiritualitas
Teori pendekatan ini menekankan tentang perkembangan spiritual dari individu selama ia hidup. Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu orang-orang dalam mengembangkan kehidupan batin dan merespon dengan aksi keluar kepada sesama dan dunia. Seseorang berusaha untuk melatih spiritualitas (iman) yang ada dalam dirinya serta mengembangkannya agar kehidupan batinnya bertumbuh sehingga ia dapat merespon apa yang ada di luar dirinya dan dapat berbuat sesuatu yang riil bagi sesame dan lingkungan sekitar. Namun, perlu diingat bahwa ukuran pertumbuhan iman tidak hanya menyangkut kehidupan batin saja tetapi juga hubungan atau relasi dengan sesama. Fasilitator adalah pembimbing atau musafir dalam perjalanan kehidupan batin dan respon ke luar bersama sesama. Naradidik adalah pribadi dalam suatu perjalanan. Fasilitator tidak membiarkan naradidiknya berjalan sendiri, ia menjadi rekan atau mitra. Mereka berjalan bersama dan beriringan dalam menapaki kehidupan batin serta bersama pula dalam memberikan respon ke luar terhadap sesama. Proses pendidikan adalah hening, mendengar, istirahat, belajar, melayani. Hening dan mendengar mepunyai sebuah keterkaitan karena dalam keheningan tersebut kita mencoba untuk mendengar. Butuh semangat spiritualitas untuk melakukannya, tanpanya kita akan merasakan sebuah kekeringan dan sulit untuk mendengar. Dari hening dan mendengar kita dapat belajar dan melayani sebagai sebuah tindak lanjut, tentunya beristirahat untuk merenungkan semua tindakan tersebut. Proses tersebut haruslah dilakukan dengan seimbang. Konteksnya adalah keadaan di mana seseorang mengalami pembentukan spiritual dan melakukan pelayanan sosial. Implikasi untuk pelayanan, menghubungkan orang-orang dengan sumber-sumber kehidupan terdalam yang memanggil mereka kepada relasi, persahabatan, kepedulian dan keadilan. Tidak hanya bertumbuh secara pribadi saja tetapi juga bertumbuh dengan sekitar dan secara kontekstual. Maka, refleksi teologis dilakukan melalui perkembangan dalam diri orang itu dalam rangka hidup bersama orang lain dalam dunia ini (inner life yang tampak dalam outward response). Kata kunci yang dipakai dalam pendekatan ini adalah person. Lalu, bagaimana hubungan person dan komunitas di mana ia bertumbuh? Seperti yang saya uraikan sebelumnya, terdapat suatu hubungan antara inner life dengan outward response. Hubungan ini berdampak pada kehidupan spiritualitas pribadi (seperti doa dan ibadah) yang mana haruslah seimbang dengan pelayanan sosial kita (sebagai hasil refleksi).
3. Teori Pendekatan Komunitas Iman
Teori pendekatan komunitas iman adalah suatu pendekatan yang berdasarkan pada adanya suatu komunitas di suatu tempat. Tujuan dari pendekatan ini adalah membangun komunitas yang mempromosikan perkembangan manusia yang otentik; membantu personal-personal membentuk komunitas. Dalam hal ini, pendekatan komunitas iman ingin membangun komunitas dan juga membantu perkembangan manusia yang otentik atau asli tanpa ada “imitasi”. Juga menghargai person-person dalam komunitas dan membiarkan mereka berkembang sesuai dirinya. Maksudnya, mereka diberi suatu kebebasan untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan bakat dan kemampuan yang ada dalam dirinya sendiri tanpa ada intimidasi atau paksaan dari pihak lain. Namun, ada hal penting yang harus kita perhatikan. Jangan sampai karena kita berada dalam suatu komunitas (mungkin cukup besar) kita merasa aman. Kita tidak boleh selalu menggantungkan diri dalam komunitas di mana kita berada, ada kalanya kita harus terpisah (atau memisahkan diri) dari komunitas tersebut. Harus diingat juga, komunitas bukanlah kumpulan orang-orang. Dari sisi fasilitator, fasilitator adalah seorang pemimpin yang memfasilitasi kelompok-kelompok kecil dan membantu anggota-anggota jemaat membentuk kehidupan jemaat dan misi. Naradidik adalah orang-orang dan komunitas iman. Proses pendidikan yang dilakukan adalah pelayanan-refleksi-aksi. Pelayanan yang dimaksud tidaklah hanya pelayanan ke dalam gereja, tetapi lebih diutamakan pelayanan ke luar yaitu ke arah masyarakat. Setelah melakukan pelayanan, kita seyogyannya mencoba untuk merefleksikannya dan kemudian melakukan aksi yang nyata sebagai hasil dari refleksi itu. Selain pelayanan dan refleksi diperlukan juga persekutuan karena hal ini akan mendukung komunitas itu sendiri dan dampaknya, relasi di antara anggota komunitas itu akan semakin akrab. Maka, dapat dikatakan bahwa antara heart-head-hands, kognisi-afeksi-aksi haruslah dilakukan dengan seimbang. Apabila hanya salah satu saja yang ditonjolkan dapat berdampak terjadi suatu ketidakseimbangan. Konteksnya adalah jemaat yang berada dalam komunitas yang lebih luas. Implikasi untuk pelayanan dari pendekatan komunitas iman adalah membantu kelompok-kelompok dan gereja-gereja membentuk komunitas dan menjangkau dunia. Dalam hal menjangkau dunia, kelompok-kelompok dan gereja-gereja haruslah mencoba untuk berpikir global, beraksi lokal (think globally, act locally). Apa maksudnya? Kelompok-kelompok dan gereja-gereja haruslah mempunyai sebuah pemikiran yang sifatnya global atau universal dan untuk mewujudkannya dapat melakukan sebuah tindakan yang mampu dilakukan konteks lokal dan bersifat lokal pula. Namun, perlu juga berpikir lokal, bertindak global (think locally, act globally). Jadi kita memikirkan permasalahan apa yang terjadi di sekitar kita (lokal) dan apa dampaknya bagi lingkungan secara universal sehingga kita bisa menentukan suatu tindakan yang bersifat universal atau global. Di dalam suatu komunitas, kita tidak hanya membagikan pengalaman pribadi saja tetapi juga setiap pergumulan yang ada di dunia.
4. Teori Pendekatan Transformasi
Pendekatan ini memaparkan pentingnya sebuah perububahan (sosial) dalam kehidupan. Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu orang-orang dan komunitas untuk mempromosikan (menekankan) kewarganegaraan yang setia dan perubahan sosial. Pengertian transformasi di sini lebih menekankan pada perubahan radikal yang mensyaratkan adanya perubahan sosial. Pendekatan ini juga bertujuan mendukung keberadaan manusia dalam terang pemerintahan Tuhan atau dengan kata lain menjadi sponsor yang menguatkan, memampukan dan memanusiawikan (human emergence). Namun, sehubungan dengan pendekatan ini ada sebuah pertanyaan yang dapat kita refleksikan, adakah preferential option for the poor? Fasilitator dalam hal ini mengundang naradidik dalam kemitraan untuk melakukan refleksi dan aksi, atau dengan kata lain fasilitator yang pertama kali mengambil inisiatif untuk mengajak naradidik. Naradidik adalah agen-agen sejarah yang bebas dan bertanggungjawab, mencakup individu dan komunitas. Naradidik bertumbuh menuju Kristus secara aktif dan kritis dalam refleksi. Tidak hanya sekedar menerima dan menunggu sebuah gagasan atau tindakan tetapi berusaha untuk “menjemput bola” (aktif) dan kritis terhadap setiap gagasan atau tindakan yang ditemui. Bertumbuh dalam konteks pendekatan ini mencakup tiga aspek, bertumbuh dalam visi Tuhan, bertumbuh dalam nilai-nilai Kristus, dan bertumbuh dalam panggilan Roh Kudus. Proses pendidikan yang berlangsung adalah melihat-menilai/menentukan-melakukan aksi. Ketika melihat suatu kejadian yang membutuhkan suatu tindakan, individu tidak hanya melihanya dan berangan-angan saja, juga menilai atau menentukan suatu rencana tindakan yang kemudian diwujudkan dalam sebuah aksi. Konteksnya, gereja yang berbelarasa dan pelayanan-pelayanannya di dalam dan bersama dunia. Gereja tidak hanya berkutat dalam pelayanan intern tapi juga mencoba untuk melihat ke arah dunia dan melayaninya baik di dalam maupun bersama dunia itu sendiri. Implikasi dalam kehidupan bergereja adalah mendukung panggilan gereja untuk menjadi cara alternatif dalam melihat kehidupan, berada dan hidup. Maksudnya, panggilan gereja untuk menjadi garam dan terang dunia akan terwujud jika gereja mau melihat kehidupan di sekitarnya, berada dalam kehidupan itu dan mau hidup bersama kehidupan itu sehingga gereja akhirnya menjadi sebuah cara alternatif bagi kehidupan di sekitarnya.

II.2. Implikasi-implikasi dalam Kehidupan Berjemaat di GKI Jombang
Sebelum menjelaskan implikasi-implikasi pendekatan pendidikan Kristiani menurut Seymour, saya akan sedikit menguraikan keadaan umum GKI Jombang. GKI Jombang merupakan satu-satunya jemaat GKI yang terdapat di kota Jombang. Terletak di pusat kota yang terkenal dengan daerah “segitiga emas”. Jumlah jemaat GKI Jombang menurut data statistik gereja per 31 Desember 2008 adalah 524 orang dan jemaat yang aktif 414 orang, sisanya tidak aktif karena alasan berdomisili di luar kota, menempuh studi di luar kota, dan lain-lain. Struktur kemajelisan dibagi menjadi tiga bidang, Bidang 1 menangani Pembinaan dan Pengorganisasian, Bidang 2 menangani Ibadah dan Kebersamaan, dan Bidang 3 menangani Oikumene, Kemasyarakatan & Penatalayanan. Terdapat enam komisi, yaitu Komisi Anak, Komisi Pemuda/Remaja, Komisi Dewasa, Komisi Lanjut Usia (Lansia), Komisi Kesaksian dan Pelayanan (Kespel), dan Komisi Musik Gerejawi (Muger) serta yang baru saja terbentuk adalah Tim Ibadah.
Sekarang, saya akan mencoba untuk menganalisis implikasi-implikasi pendekatan ini dalam kehidupan jemaat di mana saya bergereja sejak kecil. Pertama, pendekatan Instruksional Religius.Seperti sudah saya katakan pada awal penjabaran pendekatan ini, di setiap gereja pastilah ada. Demikian pula di gereja saya, mulai dari kegiatan Ibadah Minggu hingga kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Komisi anak hingga Komisi Lansia, terdapat pendekatan instruksional religius. Kita awali dari Ibadah Minggu. Dalam ibadah Minggu terdapat unsur pembinaan iman dan pengajaran melalui kotbah yang disampaikan oleh pendeta. Katekisasi, jemaat mendapatkan pembekalan tentang pokok-pokok iman Kristen, ajaran gereja, dan tata gereja sebelum menerima babtis/sidi. Pemahaman Alkitab, jemaat mendapat pemahaman yang benar mengenai firman Tuhan, belajar bersama tentang Alkitab, dan mencoba untuk merefleksikan dengan kehidupannya sehari-hari. Sedangkan tugas Tim Ibadah adalah mempersiapkan Ibadah (konsptor) dan nantinya selesai pelaksanaan akan memberikan evaluasi.
Komisi Anak, ada kegiatan Sekolah Minggu yang bertujuan memberikan pembinaan iman yang terus-menerus dalam proses beriman mereka kepada Tuhan Yesus dan perlunya memberi contoh dan petunjuk bagaimana mewujudnyatakan iman mereka dalam kehidupannya sehari-hari. Terlihat, tujuan pendekatan instruksional religius diterapkan. Ada upaya untuk membuat koneksi antara iman yang berdasarkan Alkitabiah dengan kehidupan sehari-hari. Untuk melakukan kegiatan tersebut, Guru-guru Sekolah Minggu mempersiapkan diri terlebih dahulu dalam Persiapan Sekolah Minggu lima hari sebelumnya untuk membahas bahan pelajaran, penerapan dan aktivitas yang akan diberikan. Selain itu, untuk memberikan dasar dan landasan iman yang benar, menarik benang merah dari refleksi yang berbeda dari setiap guru agar ada persamaan persepsi dan isi bahan yang disampaikan kepada anak. Ada pula Pembinaan Guru Sekolah Minggu. Tujuannya untuk memberikan bekal kepada guru agar mampu mengajar dengan baik sehingga bisa mengajak naradidik bersama membangun suasana belajar yang menyenangkan dan kekeluargaan. Komisi Pemuda/Remaja, terdapat kegiatan Persekutuan Doa dan Pemahaman Alkitab. Dalam Persekutuan Doa, pemuda/remaja diajak untuk bertumbuh imannya dengan benar dan terarah dalam Kristus serta membentuk karakter diri dengan landasan iman Kristen. Pemuda/remaja diajak untuk belajar bagaimana hidup yang benar. Pemahaman Alkitab adalah wadah untuk belajar secara lebih mendalam tentang Alkitab, tujuannya remaja dapat mengaplikasikan apa yang didapat dalam PA ini dalam kehidupannya sehari-hari sehingga pemuda/remaja dapat merelevansikan antara teks yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Untuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan tersebut, seperti Komisi Anak, Komisi Pemuda/Remaja juga mengadakan persiapan untuk petugas pelayanan agar Persekutuan Doa dan Pemahaman Alkitab dapat berjalan lancar. Terdapat juga pembinaan bagi pengurus dimana melalui pembinaan yang diadakan, pengurus memiliki bekal kepemimpinan, mengetahui makna pelayanan yang benar bagi Tuhan, dan memiliki daya kinerja yang baik sebagai tim. Komisi Dewasa, kegiatan yang sesuai dengan pendekatan instruksional religius adalah Persekutuan Dewasa yang memiliki tujuan menguatkan iman dan kerohanian jemaat dewasa dalam menghadapi pergumulan hidup pribadi, keluarga dan dengan lingkungan sekitarnya.
Komisi Lansia juga memiliki persekutuan yang diadakan tiap 1 bulan sekali. Sama seperti komisi-komisi yang lain, tujuanya adalah menambah kekuatan iman dan kesetiaan serta ketekunan dalam berbakti kepada Tuhan di usia yang semakin senja. Di luar peresekutuan rutin, KomisiLansia juga mengadakan kegiatan pembinaan dengan materi-materi seputar kehidupan lansia, misalnya kesehatan dan kegiatan ini biasanya berlangsung dengan melibatkan lansia dari gereja lain. Komisi Kespel dalam bidang pembinaan mengadakan Seminar bagi Remaja tentang Reproduksi Remaja, Narkoba dan Kecanduan Minuman Keras bagi siswa SMP dan pemuda/remaja agar mereka tidak terjerumus ke dalam kasus-kasus narkoba dan pelanggaran seks. Tentunya seminar ini juga dikaitkan dengan kehidupan rohani.
Pendekatan yang kedua, pendekatan Komunitas Iman. Pendekatan ini terlihat diterapkan di Komisi Pemuda/Remaja dalam kegiatan Pemahaman Alkitab. Selain wadah pembinaan, PA juga wadah untuk men-share-kan pengalaman dan pergumulan yang dihadapi serta mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Tidak hanya pergumulan secarapribadi saja, terkadang kita juga membahas isu-isu yang bersifat sosial, berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat, dan kontekstual. Kegiatannya sebagai berikut, setelah membahas isi materi dilanjutkan dengan share dari masing-masing peserta PA tentang pengalaman pribadi. Lalu, pemimpin menanggapinya dengan memberikan sebuah isu yang hangat dibicarakan di masyarakat dan peserta diminta untuk merefleksikan kemudian menyampaikan hasil refleksinya itu dalam forum PA tersebut.
Pendekatan ketiga yang terdapat di gereja saya adalah Pendekatan Transformasi. Hal ini tampak dalam Komisi Kespel melalui program Pemberian Bantuan Beasiswa, Pelayanan Diakonia, dan Pengobatan Gratis yang biasanya diadakan bertepatan dengan bulan Keluarga. Pemberian bantuan beasiswa ditujukan untuk anak didik yang kurang mampu tanpa melihat prestasi. Hal ini dilakukan karena melihat semakin mahalnya biaya pendidikan dan banyak orang tua yang kurang mampu untuk membiayai pendidikan anaknya. Diharapkan dengan pemberian beasiswa ini anak semakin terpacu untuk terus berprestasi dan memberi yang terbaik bagi hidupnya. Perlu diketahui bahwa penerima bantuan tidak hanya jemaat gereja yang kurang mampu tetapi juga jemaat gereja lain dan terkadang ada yang berbeda keyakinan. Program kedua, Pelayanan Diakonia yang bertujuan membantu anggota jemaat yang mengalami kesulitan dalam bidang ekonomi sehingga beban jemaat tersebut menjadi lebih ringan. Dari bantuan yang diberikan itu, Komisi Kespel juga mempunyai suatu harapan agar jemaat yang menerima dapat memanfaatkan bantuan itu untuk hal-hal yang berguna dan dapat memenuhi kebutuhan sendiri tanpa terus menggantungkan pada orang lain. Program ketiga, Pengobatan Gratis. Awalnya program ini hanya diperuntukkan warga jemaat. Seiring berjalannya waktu, kegiatan ini terbuka untuk umum dan bagi yang tidak mampu. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya pemeriksaan saja tetapi juga pemberian fasilitas obat gratis tanpa harus membayar sepeser pun.

III. PENUTUP
Demikianlah hasil pemaparan saya mengenai pendekatan-pendekatan Pendidikan Kristiani dan implikasinya bagi kegidupan di gereja saya, GKI Jombang.Jika kita perhatikan, tidak semua pendekatan terimplikasi. Ada satu pendekatan yang tidak terdapat dalam gereja saya. Menurut saya, hal ini wajar dan tidak perlu dipermasalahkan. Tidak semua gereja mempunyai kehidupan dan permasalahan yang kompleks, masing-masing mempuyai dinamika kehidupan jemaat yang khas. Tinggal bagaimana kita menghayati dan menerapkan implikasi yang ada agar gereja kita menjadi lebih baik. Terpenting, apa yang dapat kita berikan bagi pertumbuhan gereja kita di masa yang akan datang dan tentunya hal itu dapat kita lakukan sesuai kemampuan yang kita miliki. Satu hal tidak boleh dilupakan, jangan melupakan konteks jemaat di mana kita berjemaat karena hal itu juga akan berpengaruh. Semoga tulisan saya ini dapat berguna bagi kita dalam mempelajari Pendidikan Kristiani dan mengaplikasikan apa yang telah kita peroleh dengan sungguh-sungguh. Saya mohon maaf bila terdapat kata yang kurang berkenan. Kritik dan saran yang membangun senantiasa saya nantikan guna untuk kesempurnaan tulisan saya di masa mendatang. Terimaksih. Tuhan Memberkati.

Wednesday, November 4, 2009

Syukurku...


terimakasih Bapa untuk satu hari yang boleh aku jalani lagi...
trimakasih juga untuk setiap pengalaman yang boleh aku peroleh bersama Engkau..
banyak pelajaran yang dapat aku terima..

di saat aku bingung kepada siapa aku harus menyelesaikan tugas paper,
mencari teman untuk mengungkapkan apa yang menjadi permasalahanku,
Engkau menghadirkan orang-orang yang bersedia membantu dan membangkitkan motivasiku lagi
kasihMu memang tiada taranya Bapa bagiku...Engkau seperti sudah merencanakan
dan mengethui apa yang aku butuhkan..

hanya satu permintaanku pada pagi ini...
kiranya Engkau tetap setia menjagaku dan menyertaiku..
Amin.

yogyakarta, 26 oktober 2009
di pagi yang cukup dingin dan rasa kantuk yang mulai mengelayuti tubuh serta pkiranku....

Tuesday, October 27, 2009

Tugas Pengamatan Transformasi Mata Kuliah Pendidikan Kristiani


Minggu, 24 Oktober 2009 saya melakukan pengamatan tentang teori pendekatan transformasi di GKI Ngupasan, Yogyakarta. Namun, saya tidak melakukan pengamatan secara langsung, lebih tepatnya saya melakukan wawancara dengan salah satu anggota Majelis Jemaat untuk memperoleh data-data yang berkaitan dengan teori pendekatan transformasi dan data-data yang saya sajikan di bawah ini adalah hasil dari wawancara tersebut. Di GKI Ngupasan, terdapat sebuah program yang bernama PPA IO 742.

Wednesday, October 14, 2009

Pengamatan Komunitas Iman di GKI Ngupasan

Minggu, 12 Oktober 2010 saya melakukan pengamatan tentang teori pendekatan komunitas iman di GKI Ngupasan. Di tempat ini ada sebuah komunitas yang bernama Nitaskana. Nitaskana adalah kepanjangan dari Komunitas Kapal Naga. Komunitas ini adalah semacam komunitas bersama dimana semua anggota ikut berperan aktif dalam kelompok-kelompok kecil. Apabila dihubungkan dengan teori tersebut di atas, tujuan Nitaskana membantu anggota komunitas untuk bertumbuh bersama dalam iman mereka serta membantu tiap personal untuk membentuk komunitas-komunitas baru. Tujuan yang lain adalah membentuk jiwa kepemimpinan dalam diri tiap anggota untuk membentuk kelompok-kelompok kecil baru. Dalam Nitaskana, tiap anggota boleh mengembangkan bakat dan talenta yang ada dalam dirinya. Sedikit saya uraikan kegiatan Nitaskana, sebelum memulai sharing dalam kelompok kecil, kegiatan dimulai dengan kelas besar. Dalam kelas besar ini, ada penyampaian materi pengajaran oleh Pendeta ataupun orang yang ditunjuk oleh pengurus. Setiap anggota diberi kesempatan dalam setiap pertemuan, seperti memipin pujian, meenjadi pemain musik, dan penerima tamu. Setelah mengikuti kelas besar, anggota masuk ke kelompok-kelompok kecil dengan seorang fasilitator (terkadang ada kelompok yang dibantu seorang asisten). Di kelompok kecil, anggota dimotivasi untuk men-share-kan pelajaran yang telah didapat dalam kelas besar(mungkin ada yang kurang jelas atau timbul pertanyaan kritis), pengalaman-pengalaman pribadi, pendapat atau pergumulan pribadi atas pertanyaan-pertanyaan reflektif yang terdapat dalam buku panduan, dan tugas atau proyek selama satu minggu sesuai kesepakatan bersama. Sharing ini juga memotivasi anggota kelompok agar berani meyampaikan pengalaman pribadinya kepada kelompok dan kelompok dapat memberikan respon agar dapat direkonstruksi menjadi sebuah pelajaran hidup yang berguna. Peran fasilitator sangatlah penting karena harus memfasilitasi kelompok yang dibimbingnya untuk mencoba terbuka dan mau mengerti permasalahan yang dialami oleh anggota kelompok yang lain. Naradidik atau peserta adalah jemaat mulai dari remaja hingga lansia, tentunya dengan pembagian kelompok yang sesuai. Nitaskana lebih menekankan refleksi dan aksi. Aksi disini bukan berarti aksi keluar tetapi aksi bagi pertumbuan iman pribadi atau kelompok juga persekutuan. Konteks komunitas adalah anggota jemaat dalam suatu gereja. Implikasi bagi pelayanan adalah semakin banyaknya terbentuk kelompok-kelompok kecil di GKI Ngupasan yang terus berkembang dan membentuk komunitas-komunitas baru.

Tuesday, September 15, 2009

Gemetar

Hari ini sesuatu membuatku gemetar...
Entah mengapa semua terasa begitu cepat berlalu..

Hm......sesuatu itu selalu ada di dekatku, entah di mana pun dan kapan pun..
Apakah yangharus ku lakukan?
Haruskah aku hanya terpaku, tertunduk lesu menghadapinya?

Mungkin aku harus lebih semangat lagi menghadapinya...
aku tidak boleh menyerah dan mundur lagi...


yogya,16 September 2009

di tengah kegugupan yang menyelimuti sekujur tubuhku

Wednesday, September 9, 2009

Ibadah Syukur RTB PEMASMUR

Gundul-gundul pacul..cul..gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul..kul.. gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Itulah sepenggal lagu dolanan daerah Jawa. Lagu itu didendangkan pada fragmen yang ditampilkan pada Ibadah Syukur RTB PEMASMUR ke 1. Ibadah yang diadakan pada hari Senin, 7 September 2009 bertempat di RTB Putri untuk memperingati ulang tahun RTB ke 1. Hadir pada kesempatan ini DPP-SDM GKI SW Jawa Timur, BPMSW GKI SW Jawa Timur, perwakilan Majelis Jemaat 4 GKI di Yogyakarta (Gejayan, Gondomanan, Ngupasan, dan Wongsodirjan), dang anggota PEMASMUR. Ibadah dimulai pukul 18.30 WIB dengan prosesi membawa "jajanan" khas Jawa, celengan, dan lilin yang melambangkan budaya Jawa yang melekat dengan PEMASMUR dalam setiap aktivitas. Ibadah berlangsung dengan liturgi yang sederhana tapi mengena. Kemudian, PEMASMUR menampilkan sebuah fragmen yang berjudul "Cukup" dengan mengangkat tokoh-tokoh pewayangan Jawa, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang lebih terkenal dengan sebutan Punokawan. Fragmen ini menceritakan tentang bagaimana kita harus dapat bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang telah kita terima. Setelah fragmen, dilanjutkan khotbah yang dipimpin oleh Pdt. Timotius Wibowo. Bacaan diambil dari Filipi 4:10-13. Pak Timy (panggilan akrab Pdt. Timotius) mengajak kita untuk berefleksi tentang RTB selama 1 tahun ini. Kita harus mengucap syukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita, terkhusus anggota PEMASMUR di RTB selama 1 tahun ini. Banyak suka dan duka yang telah dijalani. Kita haruslah merasa cukup dengan berkat Tuhan yang ada, janganlah meminta berlebihan. Selain merasa cukup, kita juga diajak untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada di sekitar kita.
Setelah ibadah, dilakukan serah terima mahasiswa baru kepada GKI-GKI di Yogyakarta. Ada 3 mahasiswa baru yang "dititipkan", Sdr. Daniel Bani W.E. dan Sdr. Ezra di GKI Wongsodirjan serta Sdr. Yosua Agung P. di GKI Gejayan. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah.
Semoga dengan acara ini, kita terus diajak berefleksi tentang arti cukup itu. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Debora (Bu De) yang telah mendampingi dan membantu kami selama 1 tahun ini dan akan terus mendampingi kami sampai selesai.
Demikianlah liputan terkini dari PEMASMUR, sampai jumpa lagi di acara-acara berikutnya.

langit semakin kelam...
seakan ingin mengatakan sesuatu....
aku tidak tahu harus bagaimana ketika sang candra menghilang dari langit..
semua nampak suram tanpa terpaan sang candra

inikah maksud dari semua itu?
hmm....entahlah..........
jika cinta memang harus berkorban aku siap menerimanya..
cinta tak selamanya harus memiliki....
cinta tak selamanya harus berharap...
apakah yang harus ku perbuat?
waktu yang akan menunjukkannya...

yogya,09092009

di sore hari yang mendung dengan berselimutkan hawa sejuk...

Tuesday, May 12, 2009

Tugas Ringkasan Bahan Bacaan Kuliah


Pengetahuan, Persahabatan, dan Hikmat

(dalam buku “Etika Sosial Lintas Budaya” Hal 73-111, pengarang Bernard Adeney, diterbitkan di Yogyakarta tahun 2000)

Sebelum membahas ketiga hal yang tersebut dalam judul, bacaan ini memberikan pengertian tentang pengetahuan, persahabatan, dan hikmat. Pengetahuan adalah informasi kognitif yang diperlukan untuk membuat keputusan-keputusan yang baik dan bertindak dengan baik. Hikmat adalah penggabungan praksis, pengetahuan, komunikasi-dialog, dan membuat kehadiran kita sesuai dengan situasi sekitar. Persahabatan adalah kunci kepada pengetahuan, komunikasi dan hikmat dalam suatu konteks asing.

Pengetahuan tentang bagaimana bertindak dalam situasi tertentu sangat bergantung pada informasi kultural yang kita peroleh dengan tepat. Cara terbaik yang dapat kita lakukan untuk mendapatkannya adalah menjalin persahabatan dengan masyarakat setempat. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Karena ini adalah sarana paling ampuh dan efektif untuk memperoleh pengetahuan akan budaya lain, terutama budaya yang akan kita kenal. Persahabatan juga merupakan sarana dan tujuan pengetahuan lintas budaya. Berhasil atau tdaknya kita memperoleh pengetahuan suatu budaya tertentu bergantung seberapa cepat kita memperoleh sahabat. Untuk memulai dan membangun suatu persahabatan tersebut kita harus mulai belajar aturan-atuarn yang sesuai dengan konteks budaya yang akan kita kenal. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mewujudnyatakan persahabatan tersebut? Komunikasi dan dialog adalah kunci utama dalam membangun persahabatan. Kita sebagai individu harus sadar bahwa kita hidup dalam keberagaman komunitas (iman) dan mempunyai sudut pandang dalam pengetahuan yang sangat terbatas. Dialog adalah sarana pendekatan yang efisien, manfaat yang kita dapat saat kita melakukan dialog dengan budaya lain adalah memperoleh perspektif pengetahuan tentang budaya lain yang akan kita kenal. Mungkin, dalam melakukan pendekatan itu kita terkendala dengan adanya perbedaan-perbedaan nilai. Ada lima cara untuk menghadapi perbedaan-perbedaan nilai tersebut. Kelima cara tersebut adalah tidak menerima, subtitusi, menambahkan, kombinasi, dan sintesis atau integrasi.

Mengenani persahabatan, ada tawaran menarik dari Aristoteles tentang tiga tipe persahabatan. Pertama, persahabatan yang didasarkan pada sebuah pertolongan (contohnya, orang kuat menolong yang lemah). Kedua, persahabatan yang didasarkan pada hubungan timbal balik demi memperoleh suatu keuntungan tertentu. Ketiga, persahabatan yang didasarkan pada persahabatan itu sendiri, dimana pihak-pihak yang sama kedudukannya saling memberikan perhatian tanpa maksud apapun. Pertanyaannya, adakah tipe persahabatan yang ideal? Jawabnya ada, yaitu tipe persahabatan ketiga. Persahabatan itu dapat menjembatani setiap kendala apapun, membutuhkan pengorbanan yang besar, komitmen, kejujuran, dan kasih.

Hikmat adalah (mungkin) sesuatu yang abstrak bagi kita. Sebenarnya, hikmat adalah keterbukaan terhadap suatu kebenaran karena muncul dari suatu konfrontasi anatara pengetahuan dan suatu realitas yang tiodak dikenal. Diperlukan suatu keterbukaan terhadap “sesuatu yang asing”, berani menerima sesuatu yang berbeda serta berusaha mencari dan menemukan keterpaduan logis. Terpenting, pra-paham yang kita anggap benar rela ditelanjangi. Selain itu, hikmat berakar dama sebuah komitmen karena komitmen yang dimiliki berasal dari pengalaman sehari-hari. Terakhir, hikmat yang tidak diucapkan berakar pada keperdulian. Hikmat tidaklah dapat diungkapkan melalui kata yang puitis dan drmatis, harus ditunjukkan dengan hal-hal yang bersifat konkrit yaitu sikap peduli yang kita lakukan kepada sesama.

Saya ingin memberikan beberapa catatan kritis dalam membangun persahabatan. Pertama, kita juga harus melihat konteks budaya mana yang akan kita kenal. Secara umum, ketika orang asing akan memasuki budaya tertentu, pastilah sang empunya budaya tersebut merasa curiga akan kedatangan seorang yang asing. Apalagi jika orang itu baru pertama kali menginjakkan kakinya. Jika kita lihat dalam konteks Indonesia yang pluralitas ini, terutama setelah terjadi banyaknya kasus yang berbau SARA akhir-akhir ini, dibutuhkan suatu bentuk konkrit bagaimana kita membangun persahabatan dengan budaya yang (mungkin) selama ini belum atau tidak kita kenal. Kedua, harus ada kemauan dari setiap individu untuk menjalin persahabatan dengan suatu budaya yang baru. Mustahil persahabatan akan terbangun bila dari dalam diri individu sendiri tidak timbul kemauan. Kemauan adalah sebuah modal dari dalam diri individu untuk membangun sebuah persahabatan yang “kekal” dangan budaya yang baru. Janganlah asal-asalan. Ketiga, dibutuhkan suatu keterbukaan. Dalam ringkasan mungkin sudah disinggung perlunya keterbukaan dalam menjalin persahabatan. Keterbukaan sangatlah penting dalam persahabatan itu sendiri karena bila kedua pihak mau terbuka terhadap masing-masing serta saling menghargai, pastilah persahabatan itu akan terbangun dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan. Keempat, tentang tipe persahabatan ketiga yang ditawarkan oleh Aristoteles. Meskipun sudah ada komitmen, kejujuran, kasih, dan pengorbanan, saya masih ragu apakah persahabatan akan terbangun. Bisa saja, itu semua diperlihatkan hanya di luarnya saja, di dalamnya bertentangan. Sangat berbahaya!

Pertanyaannya, apakah solusi konkrit yang bisa membangun persahabtan itu sendiri? Akankah tipe persahabatan yang diberikan oleh Aristoteles sebagai contoh bentuk persahabatan yang ideal akan terealisasi jika kita menerapkannya? Hanya kita sendiri yang dapat menjawab.

Yogyakarta, 12 Mei 2009,

Di siang hari berhawa dingin yang menusuk kulit

Tugas Individu Mata Kuliah Sosiologi Agama


Dialog Antar Agama: Kunci Persahabatan yang Mendobrak Gerbang Alienasi Agama

I. Pendahuluan

Isu adanya pertentangan antar agama merupakan lagu yang sangat lama dalam kehidupan pluralitas di Indonesia. Seringkali kita menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa dan wajar, padahal, apabila dibiarkan berlalu begitu saja dan berlangsung terus-menerus akan menjadi sebuah “borok” yang sulit disembuhkan bagi bangsa Indonesia, yang mendaku dirinya sebagai bangsa yang bermoral dan bertoleransi tinggi. Coba kita tengok ke belakang, sejak tahun 1990-an kasus-kasus yang meng-atasnama-kan agama kerap kali terjadi di masyarakat. Bahkan, lebih parahnya, para pelaku selalu mencoba untuk meng-adu domba serta menghancurkan perdamaian yang sudah tercipta dalam masyarakat. Masyarakat dengan segala keterbatasan kemampuan akan makna pluralitas cenderung terseret dalam arus pertikaian agama. Coba kita bayangkan, apa yang terjadi jika bangsa yang majemuk ini dengan beraneka latar belakang suku, budaya dan agama saling menjatuhkan satu sama lain? Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa ini akan hancur dan “musnah” dari muka bumi. Pertanyaannya sekarang, apakah yang menjadi penyebab semuanaya itu?

Adanya keterasingan antar agama di Indonesia menjadi penyebab utama terjadinya pertentangan antar agama. Satu sama lain saling mengklaim dirinya paling benar. Konsepsi yang terbentuk dalam masing-masing agama bahwa di luar agama tersebut adalah asing dan menakutkan (contoh, agama A mendaku bahwa dirinya adalah paling benar, agama lain itu sesat dan membuat agama A takut untuk membuka diri). Hal ini makin membuat satu sama lain merasa terasing dan saling mengasingkan. Tidaklah mengherankan bahwa sejarah perjalanan sejarah bangsa Indonesia penuh bersimbah darah karena terjadi kekerasan dan kekejian antar umat beragama. Masih teringat dan terlihat di otak kita, tragedi Bondowoso, bom Malam Natal tahun 2000, bom Malam Idul Fitri di Masjid Istiqlal Jakarta dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Lalu, apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan keterasingan agama sebagai sebuah patologi tersebut? Kelompok 10 dalam diskusinya mencoba menyuguhkan sebuah solusi penyembuhan akan patologi itu, yaitu hikmat. Namun, menurut beberapa teman solusi ini terlalu abstrak hingga muncul pertanyaan, apakah bentuk konkrit dari hikmat tersebut? Maka dari itu, di dalam paper ini saya mencoba untuk memberikan yang konkrit, dialog antar agama.

Tujuan dari penulisan paper ini adalah mencoba untuk memberikan sebuah solusi yang bersifat konkrit dan nyata mengatasi keterasingan agama dalam konteks pluralitas di Indonesia yaitu dialog antar agama, serta setiap pembaca dapat mulai membuka diri terhadap “yang asing” sehingga kerukunan hidup antar beragama dapat tercapai.

II. Isi

II.1. Pengetahuan, Persahabatan, dan Hikmat

Pak Bernard dalam artikelnya yang berjudul Pengetahuan, Persahabatan dan Hikmat dalam buku Etika Sosial Lintas Budaya mempunyai definisi-definisi tentang ketiga hal tersebut serta hubungannya. Pengetahuan adalah informasi kognitif yang diperlukan untuk dapat membuat keputusan-keputusan yang baik dan bertindak dengan baik[1]. Informasi-informasi tersebut berasal dari kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita. Ketika kita memperoleh informasi-informasi, kita tidak boleh menerimanya dengan “mentah-mentah” tetapi harus menyeleksinya dengan baik dan benar agar bermanfaat serta tidak menimbulkan kesalahpahaman. Terkadang banyak sekali informasi-informasi (dalam hal ini informasi yang menyangkut kehidupan antar beragama) beredar di sekitar kita. Jika kita tidak pandai memilah mana informasi yang benar dan valid, kita dapat terjerumus dalam “kebutaan”, terjadi kesalahpahaman antar umat beragama. Persahabatan ternyata juga mempunyai hubungan yang erat dengan pengetahuan. Dalam menjalin persahabatan dengan pihak yang berbeda hendaknya kita mempunyai bekal pengetahuan yang cukup. Mengapa ini perlu? Karena dengan pengetahuan yang cukup kita tidak akan ragu apabila ingin menjalin persahabatan dengan pihak lain. Namun ini semua tidak akan terjadi bila kita juga tidak mau membuka komunikasi dengan pihak lain. Komunikasi yang baik akan menghubungkan kita dengan pihak lain dan menata kehidupan kita dalam relasi dengan pihak lain tersebut.[2] Terakhir, hikmat. Hikmat menggabungkan praksis, pengetahuan, dan komunikasi serta membuat kehadiran serta tindakan kita cocok dengan situasi kita.[3] Jadi, dengan kata lain hikmat merupakan sesuatu yang bersifat general yang ada dalam diri manusia. Lalu, bagaimana kita mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata? Mari kita lihat subbab-subbab berikutnya.

II.2. Keterbukaan: Modal Utama Dialog Antar Agama

Pada subbab sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pengetahuan, persahabatan, dan hikmat mempunyai hubungan satu sama lain dan saling erat. Akan tetapi, ketiga hal tersebut tidak dapat terjadi bila tidak dilandasi dengan sikap keterbukaan. Itulah mengapa, keterbukaan menjadi modal paling utama dan penting dalam membangun adanya dialog antar agama. Mustahil sekali dialog antar agama akan terjadi bila setiap pihak yang terlibat tidak menunjukkan saling keterbukaan. Mungkin, menjadi sedikit berat jika kita disuruh terbuka dalam masalah iman karena iman merupakan masalah yang sensitive, apalagi dalam konteks kehidupan di Indonesia yang plural ini. Sikap terbuka haruslah dimulai dari diri kita sendiri sebelum kita menyuruh orang lain. Istilah yang cocok untuk menggambarkannya adalah “seek first understand to be understood”[4], mengertilah jika ingin dimengerti. Maka, terbukalah jika kita ingin orang lain terbuka kepada kita. Niscaya, keterbukaan yang kita mulai akan memperoleh respon dari orang lain dan dialog antar agama dapat terbangun dengan sendirinya tanpa perlu membentuk sebuah forum yang bersifat formal, agar kehidupan menjadi tenang dan tentram tanpa kekerasan, dan patologi alienasi tersebut sembuh dari setiap insan di bumi ini.

II.3. Dua Pendekatan

Membangun dialog antar agama tidak dapat dilakukan dengan asal-asalan tanpa pandangan dan maksud yang jelas. Dalam artikelnya yang berjudul “Dialog untuk Perdamaian”, Hery Sucipto memberikan dua pendekatan.[5] Pertama, pendekatan kultural.[6] Maksudnya, dialog antar agama tersebut berlangsung apa adanya dalam kelompok-kelompok kecil umat beragama yang berbeda ketika mengalami kehidupan bersama sehari-hari, baik suka maupun duka. Dalam hidup sehari-hari, banyak sekali peristiwa yang melibatkan beragam pemeluk agama untuk terlibat sehingga pengalaman yang diperoleh pun banyak. Mereka dapat belajar bagaimana untuk saling peduli, menghormati sesama, bertoleransi serta belajar saling menghargai satu sama lain. Andaikata kita mau dan (benar-benar) mampu melakukannya akan muncul dalam diri kita kebutuhan untuk selalu hidup rukun.

Kedua, pendekatan secara teologis.[7] Pendekatan ini ingin menjelaskan kepada kita bahwa kerukunan yang hendak dibangun bukan diatur dari luar melainkan timbul dari dalam diri tiap umat beragama serta tumbuh secara nyata melalui penghayatan iman secara individu dan melalui dinamika kehidupan yang pluralitas. Berarti, dialog antar agama yang pada hakekatnya untuk menciptakan kerukunan itu harus muncul dari dalam diri tiap individu bukan dari tuntutan luar. Jika hal itu muncul dari luar maka percuma bila kita selalu membuka forum dialog antar agama karena tiap individu akan melakukannya dengan terpaksa tanpa ada kesadaran untuk memulainya sendiri. Jadi, amatlah penting untuk memulai dialog antar agama dari diri kita sendiri. Hal-hal kecil bila dipupuk dengan baik akan membuahkan hal-hal besar yang indah dan baik.

Dua pendekatan ini sangat menarik bila kita mau menerapkannya dalam hidup beragama kita. Suatu dialog antar agama bila dilandasi kedua hal ini, kemungkinan besar akan berjalan sesuai harapan kita.

II.4. Tujuan yang Menarik

Suatu hal yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan tercapai bila kita tidak mengerti apa tujuan sebenarnya. Demikian pula dengan dialog antar agama. Ayang Utriza NWAY dalam artikelnya yang berjudul “Natal dan Kerukunan Antaragama”[8] memberikan dua tujuan dari dialog antar agama.

Tujuan petama, dialog antar agama bukan ingin mengajak umat beragama lain masuk ke dalam agama kita melainkan mengungkapkan keyakinan yang kita imani untuk memperkaya khasanah pengetahuan umat lain tentang iman kita sehingga kesalahpahaman dan buruk sangka dapat dihindarkan sedini mungkin.[9] Benar apa yang ditulis oleh Ayang. Selama ini, jika kita perhatikan, permasalahan lintas agama yang sering terjadi di Indonesia disebabkan oleh ketakutan individu untuk mengungkapkan imannya kepada individu lain dengan alasan “takut” disangka me-religi-kan orang lain ke dalam agamanya. Bahkan, dalam forum dialog antar agama pun terkadang orang (awam) masih susah untuk mengungkapkan imannya secara terbuka di hadapan umum. Akibatnya, kesalahpahaman yang ditimbulkan permasalahan agama sering terjadi dan tidak dapat dihindarkan. Ujung-ujungnya, timbul gesekan-gesekan baik secara fisik maupun secara ideologik.

Tujuan kedua, dialog antar agama diadakan bukanlah untuk mencari pandangan ideal yang satu melinkan mencari simpul-simpul ajaran universal yang harus diperjuangkan bersama.[10] Seringkali dialog antar agama dijadikan ajang “mengunggulkan” suatu pandangan tertentu dengan segala upaya. Percuma tak berguna jadinya. Masih banyak hal-hal penting dan mendasar yang dapat dibicarakan bersama, seperti masalah kemanusiaan misalnya. Kemanusiaan adalah masalah besar dan perlu perjuangan bersama untuk mengatasinya. Tiap individu tidak dapat berjalan sendiri, harus ada usaha bersama. Inilah jalan terbaik untuk menghindari adanya alienasi. Dialog antar agama yang tidak melulu berbicara tentang iman akan memudahkan hubungan antar individu untuk duduk bersama dan membahas permasalahan yang menjadi simpul-simpul universal.

III. Penutup

Kesimpulan yang saya dapat dari pembahasan ini adalah bahwa diperlukan suatu keterbukaan dalam menciptakan dialog antar agama. Tanpa adanya keterbukaan dari masing-masing pihak dialog tersebut tidak akan tercipta, dan bila diadakan pun akan diikuti dengan terpaksa. Selain itu, diperlukan pendekatan-pendekatan agar dialog antar agama tidak menimbulkan suatu kecurigaan sehingga tujuan-tujuan yang hendak dicapai akan terarah dan jelas. Maka dialog antar agama menjadi sarana yang efektif dan ampuh untuk mengatasi adanya alienasi. Jika kita mau mengusahakannya dengan sungguh-sungguh dan tidak terpaksa, alienasi yang selama ini terbentuk dan menjadi “darah daging” dengan sendirinya akan hilang dan sirna. Gerbang alienasi yang kokoh itu akan runtuh oleh dobrakan dialog antar agama. Bagaimana dengan kita? Akankah kita mau mengusahakannya demi terciptanya suatu kehidupan yang rukun, damai dan tentram? Inilah tantangan bagi kita dan hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.

Daftar Pustaka

- Adeney, Bernard. 2000. Pengetahuan, Persahabatan, dan Hikmat dalam Etika Sosial

Lintas Budaya. Yogyakarta. (terdapat dalam Reader Sosiologi Agama)

- Djajasiswaja, Alexander Mgr. Pr.,dkk. 2006. Damai untuk Perdamaian (ed).

Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.


[1] Bernard Adeney, Pengetahuan, Persahabatan, dan Hikmat dalam Etika Sosial Lintas Budaya.(Yogyakarta,2000), hal 73

[2] Bernard Adeney, Pengetahuan, hal 73

[3] Bernard Adeney, Pengetahuan, hal 73

[4] Meminjam istilah dari buku 7th Habbit

[5],Damai untuk Perdamaian,(Jakarta,Desember 2006), hal 12-13

[6]Djajasiswaja, Alexander Mgr. Pr.,dkk,Damai untuk Perdamaian , hal 13

[7]Djajasiswaja, Alexander Mgr. Pr.,dkk,Damai untuk Perdamaian, hal 13

[8]Djajasiswaja, Alexander Mgr. Pr.,dkk,Damai untuk Perdamaian, hal 39-42

[9]Djajasiswaja, Alexander Mgr. Pr.,dkk,Damai untuk Perdamaian, hal 41

[10]Djajasiswaja, Alexander Mgr. Pr.,dkk,Damai untuk Perdamaian, hal 41

Tuesday, May 5, 2009

Oral and Post Test



Puji Tuhan, akhirnya oral dan post test sudah selesai. Aku sangat bersyukur karena keduanya dapat aku lalui dengan baik meskipun dengan sedikit kekhawatiran.
Diawali dengan post test yang dimulai kemarin, Selasa, 5 Mei 2009, pukul 10.30 WIb. Awalnya, aku tidak tahu kalau ruang testnya pindah tapi ketika menuju ruang test di INQA, di pintu tertempel pengumuman bahwa ruang test pindah ke ruang PHKI di lantai 4. Langsung aku sms ke teman2 satu grup. Setelah bertemu, kami berenam segera menuju ke lantai 4. Sesampainya di sana, ruangan masih sepi, kami kira dosennya belum ada. Ketika waktu menunjukkan pukul 10.35, aku segera mencari sang dosen. Akhirnya ketemu dan aku tanya kapan mulainya. Sang dosen mengatakan kalau sudah kumpul semua langsung mulai aja. Kebetulan kami sudah hadir semua dan test langsung dimulai. Aku mendapat urutan terakhir, jadilah aku menunggu giliran. Untuk menghabiskan waktu luang, aku bermain gitar. Ternyata menunggu itu lama juga dan membosankan (mungkin juga karena dag-dig-dug nggak karuan). Tiba juga giliranku, dengan langkah mantap aku masuk ke ruang PHKI, lalu duduk di hadapan dosen. Pertanyaan2 yang diajukan aku jawab satu per satu dengan sedikit grogi dan bahasa Inggris yang pas2an. Selesai test, aku langsung keluar dan sedikit merasa lega.
Hari ini, aku menjalani post test dan harus lulus sebagai syarat yudisium. Hm..., ternyata soalnya lumayan sulit dan aku merasa sedikit tegang hingga tengkuk leherku sedikit sakit. Padahal sebelumnya aku sudah mencoba untuk sedikit santai tapi tetap aja rasa grogi mengerogoti diriku. Akhirnya, aku berusaha tenang ketika memasuki kelas. Setelah berdoa, aku kerjakan semua soal semampuku dan waktu test yang diberikan cukup. Aku merasa lega bisa melalui post test ini meskipun soal2nya lumayan sulit. Hm..., terpenting aku mengerjakan sendiri tanpa mencontek.
Terimakasih Tuhan untuk semua kekuatan dan penyertaan dariMu. Aku sadar bahwa aku tidak dapat menjalani kedua test dengan kekuatanku sendiri. Oke..!! Tets2 yang lain masih menunggu...


Yogyakarta, 6 Mei 2009
di tengah cuaca mendung dan suara petir yang bergemuruh...

Monday, April 27, 2009

Progress Tets TOEFL Lolos...

Puji Tuhan..., aku lulus progress test yang terakhir dan skorku juga stabil, 580. Padahal sebelum test, aku sempat bingung, ngantuk dan campur aduk pokoknya! Aku juga lupa bawa penghapus, jadinya klop sudah kebingunganku. Sempat berpikir pinjam sebelahku tapi takut ketahuan pengawas dan nanti lembar kerjaku diambil. Ehm..akhirnya aku jalani juga test TOEFL dengan sangat hati2 supaya tidak terjadi kesalahan. Waktu berjalan terasa cepat dan tidak terasa. Aku sempat dag-dig-dug, takut kalau lembar kerja tidak terisi semua. Sekali lagi, Puji Tuhan, 5 menit sebelum waktu berakhir, aku sudah selesai.
Aku sangat bersyukur sekali atas test ini. Mengapa?? Karena ketika aku berserah dan menuruti semua perintahNya, aku mendapat sesuatu yang indah. Contohnya, meskipun aku tidak membawa penghapus, aku tidak mencoba untuk meminjam. Andaikata aku meminjam dan ketahuan, apalah jadinya. Thanks God for all...

Tuesday, April 21, 2009

REM QUIZ 2: We must Both Do It


Quiz kelas Remidiasi Bahasa Inggris 6 kali ini sedikit berbeda. Mrs. Cisca, dosen kami, membuat tes kali berbeda dari biasanya. Kalau biasanya kami biasa mengerjakan soal tertulis, hari ini kami memperoleh sebuah potongan artikel kecil, harus dbaca dan dipahami dalam waktu 10 menit, lalu dipresentasikan di depan kelas dengan menghubungkannya pada pengalaman masing-masing. Kami semua sempat berekspresi riang karena sedikit agak mudah. Quiz dimulai, Mrs. Cisca membagikan potongan2 artikel tersebut, kami mulai membaca dengan hati-hati dan seksama sambil mencari kata-kata yang sulit dalam kamus (boleh bawa kamus lho..., makasih Mom). Waktu berlalu dan Mrs. Cisca segera memberi tanda waktu habis. Artikel2 tadi diminta kembali. Satu per satu dari kami dipanggil untuk mempresentasikannya sesuai no.urut absen. Kebetulan aku dapat urutan agak terakhir. Waktu tiba giliranku, aku segera maju dan menerima artikelku kembali.
Artikel yang aku dapatkan bercerita tentang Bob Dobfel, yang telah memotivasi jutaan orang untuk menyumbangkan dananya guna menolong orang2 penderita kelaparan di Afrika. Dia adalah seorang pop star yang sedang naik daun. Anehnya ia mau bertemu dengan Mother Teressa, seorang wanita kecil tua renta, yang mau mengabdikan dirinya demi memberikan sebuah kenyamanan di daerah kumuh Calcutta, India. Menurut artikel tersebut, terlihat perbedaan yang contrast, dimana seorang pop star macam Bob Dobfel mau mengunjungi Mother Teressa yang kondisinya seperti itu. Namun, yang menarik, Bob mau mengakui bahwa setiap mereka mempunyai "kebesaran" masing-masing. Bahkan Bob menjuluki Mother Teressa sebagai "raksasa kecil" dan selalu mengulangi kata-katanya, " I can do things you can't do it. You can do things can't i can do it. But we must both do it". ASangat menarik sekali. Jika dihubungkan dengan pengalamanku dulu, sewaktu aku menjabat sebagai BPH Pengurus OSIS ketika kelas XI SMA, BPH kami sempat "pecah" selama bebeberapa bulan karena adanya ketidaksepahaman. Kami lakukan itu terus menerus sampai ada suatu program yang mengharuskan kami terlibat bersama, karena jika tidak, OSIS kami akan bubar. Kami pun melakukannya meskipun awalnya dengan sedikti terpaksa. Setelah dievaluasi, kami menjadi sadar bahwa kami harus bekerja bersama-sama. Tidak ada yang paling menonjol, semua sama. Kemudian, kami kembali menjadi tim dan bekerja bersama lagi dengan kesadaran yang baru.
Bagaiamana dengan anda? Cobalah untuk bersinergi dengan rekan anda. Dalam kehidupan, ada beberapa hal yang harus dikerjakan secara bersama, tidak bisa sendiri-sendiri. Oke..!! Ingatlah, "...we must both do it!".
aku pun lega dapat mempresentasikan materi ini dengan cukup baik. Semoga aku dan pembaca dapat berefleksi bersama. Selamat bersinergi, Tuhan memberkati... :)

Monday, April 20, 2009

Practice Test



Hari ini aku bersyukur sekali karena dapat melalui practice test TOEFL ke 4. Sebelum masuk kelas, aku sempat ogah-ogahan, malas rasanya untuk kuliah. Ingin rasanya cepet2 pulang dan tidur. Lalu, aku mencoba menghilangkan rasa malasku dengan mendengarkan musik dari Motorola W230-ku (nggak bermaksud promosi lho...,hehehe). Kebetulan musik yang aku putar "Indah BersamaMu" yang dinyanyiin Cornelia. Saat mendengarkan lagu itu, semangatku kembali timbul dan aku merasa seperti ada motivasi dalam diriku. Beberapa waktu kemudian, Mrs. Mega, dosenku, datang dan menghampiriku buat minta tolong membuka pintu. Segera aku lepas headsetku dan membuka pintu kelas. Udara Ac yang sejuk menerpa wajahku dan membuatku tambah segar. Setelah meletakkan tas kunci, aku segera mengambil tas dan masuk kelas seraya mencari tempat. Aku pilih tempat yang selama ini belum pernah aku tempati waktu menjalani test. Ku pilih kursi pojok depan dekat pintu. Setelah duduk dan menerima lembar jawaban serta lember soal, aku mencoba untuk rileks dan tenang sambil menunggu teman2 yang masih pergi ke kamar mandi. Setelah kelas lengkap, Mrs. Mega memberi tanda mulai. Aku berdoa dulu sebelum mengerjakan soal (walaupun hanya practice, tapi penting lho...). Waktu berlalu dan aku mengerjakan soal demi soal, aku kerjakan yang mudah dulu baru yang sulit. Waktu mengerjakan pun habis. Lembar jawaban dikumpulkan dan ditukar lalu dikoreksi. Aku sempat dag-dig-dug dan khawatir tidak dapat memenuhi target skor minimal. Semua berubah seketika saat Mrs. Mega memberutahu skorku. Puji Tuhan, skorku 580 yang berarti jumlah betul 29 dari 50 soal. Aku lega dapat melampauinya walau awlnya sempat dag-dig-dug.

Aku berefleksi bahwa segala sesuatu yang dikerjakan bersama Tuhan pasti akan memberikan hasil yang memuaskan. Entah, bagaimana cara Tuhan melakukannya. Kita harus percaya akan hal itu. Awalilah setiap pekerjaan kita dengan doa, niscaya Tuhan akan menyertai.

JBu all....